besmirched earth

Pada tahun 2007 Indonesia didaulat sebagai negara keempat pembuang emisi gas rumah kaca (greenhouse gas/ GHG) di dunia dan berdasarkan indikator konversi lahan dan perusakan hutan, posisi Indonesia sebagai ”aktor”penyebab pemanasan global berada di posisi ketiga. Kepala Ekonomi dan Penasihat Pemerintah Inggris untuk Urusan Efek Ekonomi Perubahan Iklim dan Pembangunan Sir Nicholas Stern mengatakan, ada empat penyebab emisi gas rumah kaca, yaitu aktivitas dan pemakaian energi, pertanian, kehutanan, dan limbah. ”Emisi yang terbuang dari kebakaran hutan di Indonesia lima kali lebih besar dari emisi yang terbuang di luar nonkehutanan.

Luas hutan di Indonesia dalam 50 tahun terakhir berkurang sekitar 64 juta hektare (ha) atau 1,28 juta hektare pertahun, yang dulunya luas hutan diperkirakan 162 juta ha menjadi 98 juta ha. Sungguh angka yang sangat dahsyat, apa sih penyebab hal ini? penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah ulah masyarakat indonesia sendiri, bukan hanya rakyatnya saja tetapi pemerintah pun ikut mendukung perusakan hutan ini baik dari pemerintah pusat maupun daerah. Bahkan pemerintah pernah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.2/2008 yang isinya akan berikan kebebasan atau izin kepada perusahaan tambang untuk melakukan aktivitas penambangan terbuka di kawasan hutan lindung. Hutan lindung bisa disewa dengan harga sewa Rp 300.000 per hektar, per tahun atau Rp 1000 per 3,3 meter persegi. Dan dengan harga sewa itu, mereka akan bisa melakukan aktivitas apapun di hutan berarti termasuk melakukan penambangan maupun penebangan hutan, sungguh peraturan yang gila. Pemerintah yang seharusnya melindungi hutan indonesia malah mengesahkan peraturan yang tidak masuk akal hanya karena ingin menambah penerimaan negara dari sektor PNBP.

Selain itu rakyat Indonesia masih hobi membakar hutan terbukti hampir setiap tahunnya berhektare-hektare hutan Indonesia terbakar. Padahal bangsa ini telah banyak menderita di dera bencana akibat kerusakan hutan seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan yang terjadi hampir di seluruh pelosok negeri. Entah apa kita layak di sebut bangsa yang bodoh sebenarnya saya sendiri tidak mau bangsa ini disebut bangsa yang bodoh, tetapi melihat kenyataan yang ada memang layak bangsa ini dikatakan bangsa yang bodoh.

Sungguh kacau balau negeriku ini yang bawah selalu tidak sadar dan yang atas terus saja kebelinger, okelah mungkin kita tidak selamanya hidup di bumi kita ini tetapi apa yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita nanti. Apa akan kita tinggalkan bumi yang rusak kepada anak cucu kita? Kita semua harus sadar bumi kita ini sudah tua, kita perlu menjaganya bukan malah merusaknya. Pada pertengahan abad ini atau pada tahun 2050, setidaknya enam milyar manusia di 60 negara akan mengalami kelangkaan air bersih. Bahkan, dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, laporan itu memprediksikan rata-rata pasokan air untuk tiap orang akan turun sepertiganya. apakah hal ini yang kita inginkan?tentu tidak bukan. Oleh karena itu, mulai saat ini kita harus memulai dari diri sendiri untuk menjaga lingkungan kita. Paling tidak kita tidak menebang pohon di sekitar kita, jangan mendirikan bangunan di daerah resapan air dan jangan membuang sampah sembarangan terutama sampah non-organik. Mungkin himbauan ini sedikit klise tapi jika setiap orang melaksanakan hal ini bumi kita pasti akan terselamatkan. save our earth!!!